KALIMANTAN
TENGAH
Berdiri : 2 Juli 1958
Dasar Hukum :
UU.No.21/1958
Letak :
Pulau Kalimantan ( 1ºLU-4ºLS dan 110º-116ºBT )
Tanda Plat Nomor
Kendaraan : KH
Luas Wilayah : 153.800
km².
Bandar Udara : Tjilik
Riwut.
Pelabuhan Laut : Pangkalan
Bun.
Pahlawan :
Tjilik Riwut.
Perguruan Tinggi
Negeri :
Universitas Palangkaraya.
Makanan Khas
Daerah :
Kalo-kalo.
Obyek Wisata : Pantai
Kumai, Pelabuhan Kareng Bengkirai, Taman
Alam Unpar, Taman Nasional Tanjung Puting,
Museum
Kalimantan Tengah, Bukit Rawi, Bukit
Batu
Tangkiling,dll.
Peninggalan
Sejarah :
-
Industri dan
Pertambangan : Barang Kelontong, Minyak Kelapa, Karet ,Rotan,
Minyak Bumi, Intan.
Tarian Tradisional : Tari Balean Dadas, Tari Tambun & Bungai
Rumah Adat : Rumah Betang
Senjata Tradisional : Mandau
Lagu Daerah : Kalayar
Suku : Kapuas, Ot Danum,
Ngaju, Lawangan, Dusun,Maanyan, dan Katingan
Pakaian Adat : Sinjang ( Barito )
Alat Musik Tradisional : JAPEN (sumber bunyi : Kordofon , DIPETIK PADA BAGIAN SENARNYA)
Sejarah
Busana Adat Kotawarigin Barat yang dipengaruh budaya
Melayu-Banjar dan Jawa-Surakarta.
Pada abad ke-14 Maharaja Suryanata, gubernur Majapahit
memerintah di Kerajaan Negara Dipa (Amuntai) dengan wilayah
mandalanya dari Tanjung Silat sampai Tanjung
Puting dengan daerah-daerah yang disebut Sakai, yaitu daerah sungai Barito,
Tabalong, Balangan, Pitap, Alai, Amandit, Labuan Amas, Biaju Kecil
(Kapuas-Murung), Biaju Besar (Kahayan), Sebangau, Mendawai, Katingan, Sampit
dan Pembuang yang kepala daerah-daerah tersebut disebut Mantri
Sakai, sedangkan wilayah Kotawaringin pada masa itu merupakan kerajaan
tersendiri.[3]
Pada abad ke-16 Kalimantan Tengah masih termasuk dalam
wilayah Kesultanan Banjar, penerus Negara Dipa yang telah
memindahkan ibukota ke hilir sungai Barito tepatnya di Banjarmasin,
dengan wilayah mandalanya yang semakin meluas meliputi daerah-daerah dari Tanjung Sambar sampai Tanjung Aru. Pada abad ke-16,
berkuasalah Raja Maruhum Panambahan yang beristrikan Nyai Siti Biang
Lawai, seorang puteri Dayak anak Patih Rumbih dari Biaju. Tentara Biaju
kerapkali dilibatkan dalam revolusi di istana Banjar, bahkan dengan aksi
pemotongan kepala (ngayau)
misalnya saudara muda Nyai Biang Lawai bernama Panglima Sorang yang diberi
gelar Nanang Sarang membantu Raja Maruhum menumpas pemberontakan
anak-anak Kiai Di Podok. Selain itu orang Biaju (sebutan Dayak pada jaman dulu)
juga pernah membantu Pangeran Dipati Anom (ke-2) untuk merebut
tahta dari Sultan Ri'ayatullah. Raja Maruhum
menugaskan Dipati Ngganding untuk memerintah di negeri Kotawaringin. Dipati Ngganding digantikan
oleh menantunya, yaitu Pangeran Dipati Anta-Kasuma putra Raja
Maruhum sebagai raja Kotawaringin yang pertama dengan gelar Ratu Kota
Waringin. Pangeran Dipati Anta-Kasuma adalah suami dari Andin Juluk binti
Dipati Ngganding dan Nyai Tapu binti Mantri
Kahayan. Di
Kotawaringin Pangeran Dipati Anta-Kasuma menikahi
wanita setempat dan memperoleh anak, yaitu Pangeran Amas dan Putri Lanting.[3]
Pangeran Amas yang bergelar Ratu Amas inilah yang menjadi raja Kotawaringin,
penggantinya berlanjut hingga Raja Kotawaringin sekarang, yaitu Pangeran
Ratu Alidin Sukma Alamsyah. Kontrak pertama Kotawaringin dengan VOC-Belanda
terjadi pada tahun 1637.[4]Menurut
laporan Radermacher, pada tahun 1780 telah terdapat pemerintahan pribumi
seperti Kyai Ingebai Suradi Raya kepala daerah Mendawai, Kyai Ingebai Sudi Ratu
kepala daerah Sampit, Raden Jaya kepala daerah Pembuang dan kerajaan
Kotawaringin dengan rajanya yang bergelar Ratu Kota Ringin[5]
Berdasarkan traktat 13 Agustus
1787, Sunan
Nata Alam dari Banjarmasin menyerahkan daerah-daerah di Kalimantan Tengah,
Kalimantan Timur, sebagian Kalimantan Barat dan sebagian Kalimantan Selatan
(termasuk Banjarmasin) kepada VOC, sedangkan Kesultanan
Banjar sendiri dengan wilayahnya yang tersisa sepanjang daerah Kuin Utara,
Martapura, Hulu Sungai sampai Tamiang Layang dan Mengkatip menjadi daerah
protektorat VOC, Belanda. Pada tanggal 4 Mei 1826 Sultan Adam
al-Watsiq Billah dari Banjar menegaskan kembali penyerahan wilayah Kalimantan
Tengah beserta daerah-daerah lainnya kepada pemerintahan kolonial Hindia
Belanda. Secara de facto wilayah pedalaman Kalimantan Tengah tunduk kepada
Hindia Belanda semenjak Perjanjian Tumbang Anoi pada tahun 1894. Selanjutnya
kepala-kepala daerah di Kalimantan Tengah berada di bawah Hindia Belanda.[6]
Sekitar tahun 1850, daerah Tanah Dusun (Barito Raya) terbagi dalam beberapa daerah
pemerintahan yaitu: Kiaij Martipatie, Moeroeng Sikamat, Dermawijaija, Kiaij
Dermapatie, Ihanjah dan Mankatip.[7][8]
Berdasarkan Staatsblad van Nederlandisch Indië tahun 1849,
daerah-daerah di wilayah ini termasuk dalam zuid-ooster-afdeeling menurut Bêsluit
van den Minister van Staat, Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie,
pada 27 Agustus 1849, No. 8.[9]
Daerah-daerah di Kalteng tergolang sebagai negara dependen dan distrik dalam
Kesultanan Banjar.[10]
Sebelum abad XIV, daerah Kalimantan Tengah termasuk daerah
yang masih murni, belum ada pendatang dari daerah lain. Saat itu satu-satunya
alat transportasi adalah perahu. Tahun 1350 Kerajaan Hindu mulai memasuki
daerah Kotawaringin. Tahun 1365, Kerajaan Hindu dapat dikuasai oleh Kerajaan
Majapahit. Beberapa kepala suku diangkat menjadi Menteri Kerajaan. Tahun 1520,
pada waktu pantai di Kalimantan bagian selatan dikuasai oleh Kesultanan Demak,
agama Islam mulai berkembang di Kotawaringin. Tahun 1615 Kesultanan Banjar
mendirikan Kerajaan Kotawaringin, yang meliputi daerah pantai Kalimantan
Tengah. Daerah-daerah tersebut ialah : Sampit, Mendawai, dan Pembuang.
Sedangkan daerah-daerah lain tetap bebas, dipimpin langsung oleh para kepala
suku, bahkan banyak dari antara mereka yang menarik diri masuk ke pedalaman. Di
daerah Pematang Sawang Pulau Kupang, dekat Kapuas, Kota Bataguh pernah terjadi
perang besar. Perempuan Dayak bernama Nyai Undang memegang peranan dalam
peperangan itu. Nyai Undang didampingi oleh para satria gagah perkasa,
diantaranya Tambun, Bungai, Andin Sindai, dan Tawala Rawa Raca. Di kemudian
hari nama pahlawan gagah perkasa Tambun Bungai, menjadi nama Kodam XI Tambun
Bungai, Kalimantan Tengah. Tahun 1787, dengan adanya perjanjian antara Sultan
Banjar dengan VOC, berakibat daerah Kalimantan Tengah, bahkan nyaris seluruh
daerah, dikuasai VOC. Sekitar tahun 1835 misionaris Kristen mulai beraktifitas
secara leluasa di selatan Kalimantan. Pada 26 Juni 1835, Barnstein,
penginjil pertama Kalimantan tiba dan mulai menyebarkan agama Kristen di
Banjarmasin. Pemerintah lokal Hindia Belanda malahan merintangi upaya-upaya
misionaris[11]
Pada tanggal 1 Mei 1859 pemerintah Hindia Belanda membuka pelabuhan di Sampit.[12]
Tahun 1917, Pemerintah Penjajah mulai mengangkat masyarakat setempat untuk
dijadikan petugas-petugas pemerintahannya, dengan pengawasan langsung oleh para
penjajah sendiri. Sejak abad XIX, penjajah mulai mengadakan ekspedisi masuk
pedalaman Kalimantan dengan maksud untuk memperkuat kedudukan mereka. Namun
penduduk pribumi, tidak begitu saja mudah dipengaruhi dan dikuasai. Perlawanan
kepada para penjajah mereka lakukan hingga abad XX. Perlawanan secara frontal,
berakhir tahun 1905, setelah Sultan Mohamad Seman gugur sebagai kusuma bangsa
di Sungai Menawing dan dimakamkan di Puruk Cahu. Tahun 1835, Agama Kristen
Protestan mulai masuk ke pedalaman. Hingga Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17
Agustus 1945, para penjajah tidak mampu menguasai Kalimantan secara menyeluruh.
Penduduk asli tetap bertahan dan mengadakan perlawanan. Pada Agustus 1935
terjadi pertempuran antara suku Dayak Punan yaitu Oot Marikit dengan kaum
penjajah. Pertempuran diakhiri dengan perdamaian di Sampit antara Oot Marikit
dengan menantunya Pangenan atau Panganon dengan Pemerintah Belanda. Menurut
Hermogenes Ugang , pada abad ke 17, seorang misionaris Roma Katholik bernama
Antonio Ventimiglia pernah datang ke Banjarmasin. Dengan perjuangan gigih dan
ketekunannya hilir-mudik mengarungi sungai besar di Kalimantan dengan perahu
yang telah dilengkapi altar untuk mengurbankan Misa, ia berhasil membaptiskan
tiga ribu orang Ngaju menjadi Katholik. Pekerjaan beliau dipusatkan di daerah
hulu Kapuas (Manusup) dan pengaruh pekerjaan beliau terasa sampai ke daerah
Bukit. Namun, atas perintah Sultan Banjarmasin, Pastor Antonius
Ventimiglia kemudian dibunuh. Alasan pembunuhan adalah karena Pastor
Ventimiglia sangat mengasihi orang Ngaju, sementara saat itu orang-orang Ngaju
mempunyai hubungan yang kurang baik dengan Sultan Surya Alam/Tahliluulah,
karena orang Biaju (Ngaju) pendukung Gusti Ranuwijaya penguasa Tanah
Dusun-saingannya Sultan Surya Alam/Tahlilullah dalam perdagangan lada.[13]
Dengan terbunuhnya Pastor Ventimiglia maka beribu-ribu umat Katholik orang
Ngaju yang telah dibapbtiskannya, kembali kepada iman asli milik leluhur
mereka. Yang tertinggal hanyalah tanda-tanda salib yang pernah dikenalkan oleh
Pastor Ventimiglia kepada mereka. Namun tanda salib tersebut telah kehilangan
arti yang sebenarnya. Tanda salib hanya menjadi benda fetis (jimat) yang
berkhasiat magis sebagai penolak bala yang hingga saat ini terkenal dengan
sebutan lapak lampinak dalam bahasa Dayak atau cacak burung dalam bahasa
Banjar.
Di masa penjajahan, suku Dayak di daerah Kalimantan Tengah,
sekalipun telah bersosialisasi dengan pendatang, namun tetap berada dalam
lingkungannya sendiri. Tahun 1919, generasi muda Dayak yang telah mengenyam
pendidikan formal, mengusahakan kemajuan bagi masyarakat sukunya dengan
mendirikan Serikat Dayak dan Koperasi Dayak, yang dipelopori oleh Hausman Babu,
M. Lampe , Philips Sinar, Haji Abdulgani, Sian, Lui Kamis, Tamanggung Tundan,
dan masih banyak lainnya. Serikat Dayak dan Koperasi Dayak, bergerak aktif
hingga tahun 1926. Sejak saat itu, Suku Dayak menjadi lebih mengenal keadaan
zaman dan mulai bergerak. Tahun 1928, kedua organisasi tersebut dilebur menjadi
Pakat Dayak, yang bergerak dalam bidang sosial, ekonomi dan politik. Mereka
yang terlibat aktif dalam kegiatan tersebut ialah Hausman Babu, Anton Samat,
Loei Kamis. Kemudian dilanjutkan oleh Mahir Mahar, C. Luran, H. Nyangkal, Oto
Ibrahim, Philips Sinar, E.S. Handuran, Amir Hasan, Christian Nyunting, Tjilik
Riwut, dan masih banyak lainnya. Pakat Dayak meneruskan perjuangan, hingga
bubarnya pemerintahan Belanda di Indonesia. Tahun 1945, Persatuan Dayak yang
berpusat di Pontianak, kemudian mempunyai cabang di seluruh Kalimantan,
dipelopori oleh J. Uvang Uray , F.J. Palaunsuka, A. Djaelani, T. Brahim, F.D.
Leiden. Pada tahun 1959, Persatuan Dayak bubar, kemudian bergabung dengan PNI
dan Partindo. Akhirnya Partindo Kalimantan Barat meleburkan diri menjadi IPKI.
Di daerah Kalimantan Timur berdiri Persukai atau Persatuan Suku Kalimantan
Indonesia dibawah pimpinan Kamuk Tupak, W. Bungai, Muchtar, R. Magat, dan masih
banyak lainnya.
Tahun 1942, Kalimantan Tengah disebut Afdeeling
Kapoeas-Barito yang terbagi 6 divisi.[14]
Kondisi dan Sumber Daya Alam
Kondisi Alam
Bagian Utara terdiri Pegunungan Muller Swachner dan
perbukitan, bagian Selatan dataran rendah, rawa dan paya-paya. Berbatasan
dengan tiga Provinsi Indonesia, yaitu Kalimantan Timur, Selatan dan Barat serta
Laut Jawa. Wilayah ini beriklim tropis lembap yang dilintasi oleh garis
equator.
Keanekaragaman Hayati
Banyak yang belum diketahui, dengan ragam wilayah pantai,
gunung/bukit, dataran rendah dan paya, segala macam vegetasi tropis mendominasi
alam daerah ini. Orangutan merupakan hewan endemik yang masih banyak di
Kalimantan Tengah, khususnya di wilayah Taman Nasional Tanjung Puting yang
memiliki areal mencapai 300.000 ha di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan.
Terdapat beruang, landak, owa-owa, beruk, kera, bekantan, trenggiling, buaya,
kukang, paus air tawar (tampahas), arwana, manjuhan, biota laut, penyu, bulus,
burung rangkong, betet/beo dan hewan lain yang bervariasi tinggi.
Sumber Daya Alam
Hutan mendominasi wilayah 80%. Hutan primer tersisa sekitar
25% dari luas wilayah. Lahan yang luas saat ini mulai didominasi kebun Kelapa
Sawit yang mencapai 700.000 ha (2007). Perkebunan karet dan rotan rakyat masih
tersebar hampir diseluruh daerah, terutama di Kabupaten Kapuas, Katingan,
Pulang Pisau, Gunung Mas dan Kotawaringin Timur.
Banyak ragam potensi sumber alam, antara lain yang sudah
diusahakan berupa tambang batubara, emas, zirkon, besi. Terdapat pula tembaga,
kaolin, batu permata dan lain-lain.
Sosial Kemasyarakatan
Suku Bangsa
Suku Dayak yang terdapat di Kalimantan Tengah terdiri atas
Dayak Hulu dan Dayak Hilir. Dayak Hulu terdiri atas : Dayak Ot
Danum, Dayak Siang, Dayak Murung, Dayak Taboyan, Dayak Lawangan, Dayak Dusun
dan Dayak Maanyan. Sedangkan Dayak Hilir (Rumpun Ngaju) terdiri atas:
Dayak Ngaju, Dayak Bakumpai, Dayak Katingan, dan Dayak Sampit. Suku Dayak yang dominan di
Kalimantan Tengah adalah suku Dayak Ngaju, suku lainnya yang tinggal di pesisir
adalah Banjar
Melayu Pantai merupakan ¼ populasi Kalteng. Disamping itu ada pula suku Jawa, Madura,
Bugis
dan lain-lain. Gabungan suku Dayak (Ngaju, Sampit, Maanyan, Bakumpai) mencapai
37,90%.[15]
|
Komposisi Sukubangsa di Kalimantan Tengah
|
|||
|
Suku Bangsa
|
Central
Borneo 1930 (termasuk sebagian Kalbar)[16][17]
|
Kalteng 2000[15]
|
2010
|
|
Total
|
393,282
|
-
|
-
|
|
63,49%
|
-
|
-
|
|
|
Dayak Ngaju
|
(Dayak)
|
18,02%
|
-
|
|
Dayak Sampit
|
(Dayak)
|
9,57%
|
-
|
|
Dayak Bakumpai
|
(Dayak)
|
7,51%
|
-
|
|
Dayak Katingan
|
(Dayak)
|
3,34%
|
-
|
|
Dayak Maanyan
|
(Dayak)
|
2,80%
|
-
|
|
Melayu
|
26,64%
|
-
|
|
|
Melayu Banjar
|
5,95%
|
24,20%
|
-
|
|
Jawa
|
2,51%
|
18,06%
|
-
|
|
Bugis
|
1,09%
|
-
|
-
|
|
Madura
|
-
|
3,46%
|
-
|
|
Suku lainnya
|
0,32%
|
...%
|
-
|
Bahasa
Menurut Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Tengah,
bahasa daerah (lokal) terdapat pada 11 Daerah Aliran Sungai (DAS) yang meliputi
9 bahasa dominan dan 13 bahasa minoritas, yaitu:
- Bahasa dominan :
- Bahasa Melayu
- Bahasa Banjar
- Bahasa Ngaju
- Bahasa Manyan
- Bahasa Ot Danum
- Bahasa Katingan
- Bahasa Bakumpai
- Bahasa Tamuan
- Bahasa Sampit[18]
- Bahasa kelompok minoritas :
- Bahasa Mentaya
- Bahasa Pembuang
- Bahasa Dusun Kalahien
- Bahasa Balai
- Bahasa Bulik
- Bahasa Mendawai
- Bahasa Dusun Bayan
- Bahasa Dusun Tawoyan
- Bahasa Dusun Lawangan
- Bahasa Dayak Barean
- Bahasa Dayak Bara Injey
- Bahasa Kadoreh
- Bahasa Waringin
- Bahasa Kuhin (bahasa daerah pedalaman Seruyan Hulu)
Agama
Seperti daerah lain di Indonesia, di Provinsi Kalimantan
Tengah terdapat berbagai jenis agama dan kepercayaan yang menyebar diseluruh
daerah ini, antara lain :
Kaharingan adalah kepercayaan penduduk asli Kalimantan
Tengah yang hanya terdapat di daerah Kalimantan sehingga untuk dapat diakui
sebagai agama maka digabungkan dalam agama Hindu. Penganut Agama Hindu
Kaharingan tersebar di daerah Kalimantan Tengah dan banyak terdapat di bagian
hulu sungai, antara lain hulu sungai Kahayan, sungai Katingan dan
hulu sungai lainnya.[19]
Pendidikan
Geliat dunia pendidikan di Kalimantan Tengah sekarang sedang
berkembang dengan pesat. Hal tersebut ditandai dengan bermunculannya berbagai
lembaga pendidikan serta keberadaan beberapa Universitas dan Sekolah Tinggi di
Kalimantan Tengah.
Universitas Negeri Palangka Raya dan Untama merupakan Universitas-universitas
Negeri yang ada di Kalimantan Tengah, selain itu terdapat Universitas
Muhammadiyah serta beberapa sekolah tinggi lainnya yang ikut memberikan
sumbangan dalam meningkatkan mutu pendidikan di Kalimantan Tengah, seperti Sekolah Tinggi Ilmu Hukum
Tambun Bungai serta Sekolah
Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Palangka Raya. Tak lupa pula
berbagai Universitas maupun Sekolah Tinggi rintisan yang terdapat di Kabupaten
yang ada di Kalimantan Tengah.
Pemerintahan
Kabupaten dan Kota
Provinsi Kalimantan Tengah dibagi menjadi beberapa Daerah
Tingkat II, yaitu:
|
No.
|
Kabupaten/Kota
|
Ibu kota
|
|
1
|
Buntok
|
|
|
2
|
Tamiang
|
|
|
3
|
Muara Teweh
|
|
|
4
|
Kuala Kurun
|
|
|
5
|
Kuala Kapuas
|
|
|
6
|
Kasongan
|
|
|
7
|
Pangkalan Bun
|
|
|
8
|
Sampit
|
|
|
9
|
Nanga Bulik
|
|
|
10
|
Purukcahu
|
|
|
11
|
Pulang Pisau
|
|
|
12
|
Sukamara
|
|
|
13
|
Kuala Pembuang
|
|
|
14
|
-
|
Daftar gubernur
|
No
|
Foto
|
Nama
|
Mulai Jabatan
|
Akhir Jabatan
|
Keterangan
|
|
1.
|
30 Juni 1958
|
Gubernur Pembentuk Propinsi
Kalteng
|
|||
|
2.
|
Februari 1967
|
Gubernur Kalteng Pertama - Babat
Alas
|
|||
|
3.
|
Februari 1967
|
3 Oktober 1978
|
|
||
|
4.
|
7 Oktober 1983
|
|
|||
|
5.
|
23 Januari 1984
|
|
|||
|
6.
|
21 Januari 1989
|
|
|||
|
7.
|
22 Januari 1993
|
|
|||
|
8.
|
Juli 1999
|
|
|||
|
9.
|
Juli 1999
|
8 Maret 2000
|
|
||
|
10.
|
23 Maret 2005
|
|
|||
|
11.
|
4 Agustus 2005
|
Penjabat Gubernur
|
|||
|
12.
|
periode pertama
|
||||
|
sekarang
|
periode kedua
|
Unsur Musyawarah Pimpinan Daerah
- Gubernur : Agustin Teras Narang, S.H.
- Wakil Gubernur : Ir. H. Achmad Diran
- Sekretaris Daerah : DR. Siun Jarias, S.H, M.H.
- Ketua DPRD : R. Atu Narang
- Kapolda : Brigjend. Pol. Drs. Bachtiar Hasanudin Tambunan, SH
Perekonomian
Tenaga Kerja
Penduduk Usia 15 Tahun Lebih Menurut Kegiatan[20]
|
Kegiatan Utama
|
Februari 2006
|
Agustus 2006
|
Februari 2007
|
Februari 2008
|
|
Penduduk Usia 15 Tahun Lebih
|
1.387.244
|
1.398.307
|
1.411.568
|
1.438.271
|
|
Angkatan Kerja
|
991.764
|
944.266
|
1.100.430
|
1.077.831
|
|
Bekerja
|
991.764
|
944.266
|
1.045.186
|
1.026.211
|
Potensi Perikanan
Potensi perikanan di Kalimantan Tengah sangat besar,
khususnya perikanan air tawar. Hal itu dikarenakan luasnya wilayah perairan
tawar seperti sungai, danau dan rawa di Kalimantan Tengah.
Pertambangan
Sebagian besar penduduk di wilayah Katingan, Khususnya
Kecamatan Katingan Tengah bermata pencaharian sebagai petani dan penambang.
Hasil tambang utama yang diperoleh adalah emas dan puya (pasir zirkon) yang
berwarna merah. Masyarakat dalam melakukan penambangan masih bersifat
tradisional sehingga hasil yang diperoleh tidak optimal.
Transportasi
Bandar udara Tjilik
Riwut Palangka Raya telah bisa melayani penerbangan dari dan ke Surabaya
dan Jakarta direct, menggunakan pesawat jet berbadan lebar jenis Boeing
737-200, 737-300 dan 737-400. Penerbangan ini dilayani oleh 4 maskapai, yaitu:
Sriwijaya Air, Garuda Indonesia, Lion Air dan Batavia Air. Bandar udara
kesayangan masyarakat Palangka Raya ini memiliki pcn 29 fczu, bisa
dilintasi dengan mobil
maupun taksi.
Jarak Palangka Raya (0 km Jalan
Nasional) dengan ibukota kabupaten[21]
|
ibukota
kabupaten
|
Darat
(km)
|
Keterangan
|
|
Batas
Kalteng-Kalsel
|
-
|
(Anjir
Serapat)
|
|
142
km
|
||
|
418
km
|
||
|
511
km
|
||
|
605
km
|
-
|
|
|
702
km
|
-
|
|
|
180
km
|
-
|
|
|
88
km
|
-
|
|
|
227
km
|
-
|
|
|
702
km
|
-
|
|
|
449
km
|
-
|
|
|
686
km
|
-
|
|
|
Batas
Kalteng-Kalbar
|
-
|
(Kudangan)
|
|
|
Seni dan Budaya
Seni Musik
Arsitektur Rumah
Betang di Tumbang Anoi merupakan rumah panjang hunian komunal masyarakat
suku Dayak Ot Danum di perhuluan sungai
Kahayan.
Arsitektur Rumah
Balai Bini di Kumai, salah satu tipe Rumah
Baanjung yang merupakan hunian keluarga inti dalam rumah sendiri-sendiri
pada masyarakat pesisir Kalimantan Tengah.
Seni musik yang dikenal di daerah ini antara lain:
Chordophone
- Kacapi
- Rebab
Idiophone
- Berbagai jenis Gong
- Kangkanung
Membranophone
- Berbagai jenis Kendang (Gandang)
- Katambung
Seni Vokal
Seni vokal yang populer di wilayah ini adalah:
- Karungut
- Kandan
- Mansana
- Kalalai Lalai
- Ngendau
- Natum
- Dodoi
- Marung
Tarian
Jenis-jenis tarian yang terdapat di daerah ini antara lain:
- Tari Hugo dan Huda
- Tari Putri Malawen
- Tari Tuntung Tulus dari Barito Timur
- Tari Giring-giring
- Manasai
- Tari Balian Bawo
- Tari Balian Dadas
- Manganjan
Seni Kriya
Seni kriya yang berkembang di wilayah ini adalah:
- Seni Pahat patung Sapundu
- Seni lukis
- Tatto
- Anyaman
- Seni dari bahan Getah Nyatu
Seni bela diri
1. Kuntau
Upacara Adat
- Wadian
- Upacara Tiwah (upacara memindahkan tulang belulang keluarga yang telah meninggal)
- Wara (upacara pemindahan tulang belulang keluarga yang telah meninggal)
- Balian (upacara atau prosesi pengobatan)
- Potong Pantan (upacara peresmian atau penyambutan tamu kehormatan)
- Mapalas (upacara membuang sial atau membersihkan diri dari malapetaka)
- Ijambe (upacara pemindahan tulang belulang keluarga yang telah meninggal)
Pakaian Pengantin
Pengantin pria Kalimantan Tengah memakai celana panjang
sampai lutut, selempit perak atau tali
pinggang dan tutup kepala. Perhiasan yang dipakai adalah inuk atau kalung panjang, cekoang
atau kalung pendek dan kalung yang terbuat dari gigi binatang. Pengantin wanita
memakai kain berupa rok pendek, rompi, ikat kepala dengan hiasan bulu enggang,
kalung dan subang.











Tidak ada komentar:
Posting Komentar
maaf ya, yang punya blog masih ingusan :D